Rabu, 26 Desember 2007

Kisah sebatang Pohon Apel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.

la senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya.

Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu.

Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu.

Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel.

Wajahnya tampak sedih.

"Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.

"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu.

"Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."

Anak lelaki itu sangat senang. la lalu memetik semua buah apei yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.

Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi.

Pohon apel sangat senang melihatnya datang.

"Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel.

"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu.

"Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"

"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel

Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.

Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi.

Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih. Pada suatu musim panas, anak felaki itu datang fagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon apel. "Aku sedih," kata anak lelaki itu.

"Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"

"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah."

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya.

la lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.

"Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."

“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu” jawab anak lelaki itu.

"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel.

"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.

"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu.

Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki.

"Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."

"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Man, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.

Pohon ape! itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua.

Pohon apel itu adalah orang tua kita.

Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita

Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.

Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia,

Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Sumber: Motivasi Net

Rabu, 19 Desember 2007

Berani berbahasa

Inem ingin memutuskan hubungan dengan pacarnya lalu mengirimkan surat dalam bahasa Inggeris yang berbunyi:

Hi..my motive write dis leter to you to gif know you someting. i wan to cut connection us. I saw you play wood tree in front my eyes. So i break connection to pull my body away from dis luv. i have think very cook-cook.

I know I clap one hand only. i dont trust you again. You are really crocodile land. i dont want you to play - play with my liver. I have been crying until no more eye water. I dont want banana to fruit two times..safe walk..

The moral of the story is.......jadilah orang yang berani mencoba walaupun orang akan mentertawakan kita karena dibalik tertawa orang lain , lebih banyak lagi orang yang akan mengikuti apa yang kita lakukan...

Sumber :Anonymous

Jumat, 07 Desember 2007

Lir - ilir

Tembang Lir-ilir


Tembang ini adalah merupakan tembang yang biasa aku mainkan / dendangkan sewaktu aku kecil didesa, dinyanyikan sambil mencari sisa panen kacang atau kedele disawah, tanpa tahu arti dan maksudnya. Itu duluuuu… sekitar tahun 1950-an belum sekolah waktu itu.

Aku nggak tau lagi sekarang apakah anak desa masih nembang lir-ilir, sudah banyak hal yang mempengaruhi, aku pikir mereka sebagian besar lebih hafal lagu “Kucing Garong”.

Akupun ngerti arti dan maksud dari tembang tersebut setelah kerja di offshore. Kalau malam sepi suka nggak ada kerjaan, ngelamun, nyari inspirasi. Ternyata tembang Lir-ilir ini gubahan Kanjeng Sunan Kalijaga yang terlihat sederhana ini sarat makna dan nasihat.

Oh...ya, aku pernah diketawain juga sama temen waktu coba membahas tembang ini, memang dia orang jawa (aku sendiri campuran, tapi banyak ke Maduranya), tapi mungkin dia orang kota, berorientasi ke barat, dan kebetulan non-islam (maaf), jadi mungkin dia nggak tertarik.

Aku coba mengartikan dan menggali maknanya

Lir-ilir, lir-ilir
tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo peneken kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako... surak hiyo...

Arti lurusnya kurang lebih sbb:
Lir-ilir (tanpa arti, hanya pembuka tembang) atau Sayup-sayup bangun (dari tidur)
Tanaman-tanaman sudah mulai bersemi,
Kelihatan menghijau bagaikan gairah pengantin baru
Anak-anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu,
Walaupun licin tetap panjatlah untuk mencuci pakaianmu
Pakaianmu berkibar (melambai terkena angin) terdapat koyak dibagian tepinya
Jahitlah benahilah untuk menghadap (ke Penguasa) nanti sore
Selagi sedang terang rembulannya
Selagi sedang banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo...

Maknanya (menurut saya) kurang lebih:

Lir-ilir, lir-ilir
tandure wus sumilir
Bangunlah, sadarlah bahwa Islam (yang ditanam / disemaikan oleh para Sunan) sudah mulai bersemi / berkembang.

Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar,
Ijo atau hijau adalah lambang Islam, Ijo royo-royo (hijaunya merata) Islam berkembang merata. Indah dan menggairahkan bagai pengantin baru.

Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Penggembala, pembimbing atau pemimpin. Sebetulnya masing-masing kita sendiri adalah penggembala atau pemimpin paling tidak untuk diri sendiri. Ini adalah seruan bagi kita semua untuk “menek blimbing”
Karena buah blimbing berbentuk bintang bersudut lima, maka blimbing disini diibaratkan sebagai secara makro sebagai Rukun Islam yang lima (Syahadat, Shalat, Shaum atau Puasa, Zakat dan Ibadah Haji). Secara mikro bisa juga diibaratkan sebagai ibadah shalat wajib, satu hari ada lima waktu.
Jadi kita semua diperintahkan bagi kita semua (sebagai pemimpin bagi diri sendiri) untuk melaksanakan Rukun Islam yang lima tersebut.

Lunyu-lunyu yo peneken kanggo mbasuh dodotiro
Meskipun perintah tersebut diatas berat untuk dilaksanakan (kadang-kadang kita tergelincir kearah dosa), janganlah putus asa dalam melaksanakannya. Hal ini untuk mencuci jiwa dan ragamu (ini arti kiasan, tidak bisa diartikan secara harfiah).

Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Kita memang sudah mengaku Islam dan melaksanakan syariatnya, akan tetapi selalu ada saja hal hal yang tidak seharusnya dilakukan atau terjadi pelanggaran-pelanggaran terhadap perintah Allah. Sehingga jiwa kita tidak bersih / ada terdapat cacat-cacat (kotor)

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Perbaikilah dan bersihkanlah jiwamu untuk menghadap Allah saat ajal.

Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Selagi kamu masih kuat, masih sehat, masih mampu dan masih ada waktu untuk melakukannya.
Aku ingat ada salah satu hadist (lupa referensinya) yang mengatakan bahwa tidak akan diterima permohonan ampun seseorang apabila nyawanya sudah tinggal sebatas leher (sekarat).

Yo surako... surak hiyo...
Marilah bergembira menyambut kedatangan Islam.

Menurutku sistim tembang dolanan seperti Lir-ilir ini sangat efektif dan powerful untuk penyebaran Agama Islam pada saat itu.


Segini dulu aah..... capek

Kerja lagi